Showing posts with label inilah. Show all posts
Showing posts with label inilah. Show all posts
Monday, April 14, 2014
Inilah Rahasia Kecantikan Perempuan di Dunia

Inilah rahasia kecantikan perempuan di dunia - Sebagian perempuan pastinya sangat memperhatikan keindahan dan kecantikan kulit. Banyak kaum Hawa yang melakukan perawatan khusus untuk mencapai hal tersebut.
Karenanya, tak heran bila tiap negara punya resep khusus bagi para perempuan untuk merawat kecantikannya. Seperti apa ?
Maroko: Minyak argan
Minyak yang juga mengandung antioksidan ini bagus untuk rambut dan kulit serta menyerap lebih banyak dibandingkan minyak aoprikot dan alpukat.
Ghana: Sabun hitam
Sabun asal Ghana ini sangat legendaris karena kemampuannya membersihkan dan memnuat kulit jadi lembut. Sabun ini dibuat dari kulit pisang raja yang banyak mengandung vitamin A, E, dan pelembab shea butter
Efek yang akan didapat jika menggunakan sabun ini adalah semua kotoran dan minyak akan hilang, tetapi tetap membuat kulit kelembaban alaminya.
Prancis: Susu
Susu mengandung banyak asam lactic ringan yang bisa mengikis dan melembutkan kulit tanpa rasa sakit seperti asam tipe keras. tuangkan sejumlah susu murni atau krim pada air mandi Anda bersama dengan madu dan lavender untuk mendapatkan kulit yang bercahaya.
Selandia Baru : Madu manuka
Manusia biasa menggunakan madu karena kandungan antimikrobiotik dan rasanya yang nikmat sejak zaman dahulu. Madu yang dihasilkan dari kiwi mempunyai antibakteri dan antimkrobiotik lebih baik dari madu biasa. Di Selandia Baru, madu jenis ini biasa digunakan untuk melindungi luka.
Jepang: Sake
Sake diklaim sebagian masyarakat Jepang, banyak mengandung kojic tinggi dan enzim yang bisa mempengaruhi kulit dan membantu mengurangi hiperpigmentasi.
Cina : Minyak camellia
Khawatir tentang guratan kulit? Minyak Camellia merupakan minyak masak yang umum digunakan. Selain itu, minyak ini juga memiliki kemampuan mencegah guratan dan perubahan warna pada kulit.
Source: Yafi Blog
Semoga Bermanfaat yaaa.... ^_^
Monday, October 28, 2013
Lucu Apa Kata Bule Inilah Yang Paling Indonesia
Lucu: Apa Kata Bule? Inilah Yang Paling Indonesia - Berbicara tentang judul blog ini memang sangat unik sekali, bahkan ketika orang bula mengatakan, Inilah yang paling Indonesia
Yang ‘paling Indonesia’ ada banyak. Yang baik-baik ini patut dibanggakan dan disuritauladani. Hal-hal tidak baik yang ‘paling Indonesia’ juga ada banyak, yang sulit kita akui sebagai keburukan.
Yang jelek-jelek begini biasanya tampak mantap di mata orang asing. Meski persepsi ini cuma diserap dari seorang individu tunggal Indonesia, nilai persepsi itu sudah menjadi cap negatif bagi orang Indonesia.
Saya berhasil mengumpulkan sejumlah quotations dari pengalaman bergaul dengan orang asing dan dari catatan teman-teman yang menilai tindak tanduk mereka.
”Orang Indonesia gak bisa antri,”
(Kata petugas Customs pada saya di bandara internasional San Francisco, 1992, ketika saya tak sengaja menyalip antrian pemeriksaan pabean)
”Orang Indonesia kalau kerja tidak berkeringat, kalau makan berkeringat,”
(Simpul seorang guru Jepang di Sekolah Jepang Surabaya, tempat saya pernah mengajar bahasa Inggris, 1998)
”Kalau orang Indonesia bilang ’no problem’, itu berarti ’big problem,”
(Ucap dua wartawan koran asal Jerman yang menyewa saya sebagai penterjemah ketika mengikuti perjalanan wisata sebuah keluarga dengan dua orangutan. Keluarga ini diberi hak asuh orangutan dari Kebun Binatang Surabaya, 1996)
”Orang Indonesia suka mengurusi urusan orang lain,”
(Pendapat murid saya, lelaki asal Amerika yang diusir Pak RT ketika mengapeli pacarnya yang tinggal di kampung di Surabaya. Ia diusir karena belum pulang juga dari rumah pacar sampai pukul 22.00)
”Orang lain kalau bersalah minta maaf. Orang Indonesia kalau bersalah malah tertawa,”
(Kata teman saya asal Simon Lee, asal Singapura. Saya jadi ingat Amrozi, teroris otak bom Bali yang terus-tersenyum-senyum di depan kamera televisi meski baru menghabisi lebih dari dua ratus nyawa wisatawan di café Sari dan café Padi di Kuta)
“Indonesia itu negara surga. Saya salah jalan, ditilang polisi, saya sodori Rp 20.000. Beres! Kalau di negara saya, SIM saya disita, saya harus ke pengadilan, makan biaya, makan waktu lama, bikin capek”
(Ucap Peter Mudd, teman saya asal Inggris, punya Kursus Bahasa Inggris di Surabaya)
”Indonesia dipenuhi pecinta keindahan sekaligus perusak keindahan.
Coba itu lihat, pohon-pohon ditempeli iklan pakai paku, ruang-ruang publik yang baru dicat atau dibangun ditempeli iklan jasa sedot WC, spanduk malang melintang di tengah jalan. Rambu-rambu lalu lintas juga ditempeli iklan macam-macam jasa, termasuk iklan basmi kecoak”
(Pengamatan Catherine Anderson, asal Perth, Australia, siswa Bahasa Indonesia saya)
“Saya heran, kalau lagu Indonesia Raya tengah berkumandang, orang di sini tidak berdiri tegak dengan posisi khidmat. Di negara saya, kalau lagu kebangsaan mengudara di loud-speaker umum, kami wajib menghentikan semua kegiatan dan berdiri khidmat,”
(Kata Singkong Pitbongsarakul, teman asal Thailand yang suka mengajari saya masakan Thai)
“Orang Indonesia pintar menyulap angka. Saya suruh anak buah saya beli pompa air listrik. Ia menyerahkan bon resmi bernilai Rp 2,5 juta. Belakangan saya tahu harganya cuma Rp 2,1 juta”
(Kata Andrei Dimitriakis, asal Yunani, seperti diceritakan pada teman saya. Andrei adalah manajer eksekutif bidang pemasaran perusahaan sabun internasional di Surabaya)
“Jam karet! Janji jam 10.00, datang jam 11.00.
Kalau janji temu meleset, HP-nya sulit dihubungi”
(Pendapat Helena Sanchez, kenalan baru saya, asal Argentina, bolak-balik ke Indonesia sebagai utusan LSM internasional untuk urusan disaster recovery)
Quotations di atas memang mencerminkan nilai dan situasi sosial budaya yang boleh dibilang ’paling Indonesia’ dari sisi negatif. Perlukah kita mengubahnya menjadi lebih baik? Tentu saja!
Itu bisa dimulai dari individu kita sebagai orang Indonesia. Saya dan Anda harus menjadi duta sosial-budaya Indonesia di manapun Anda berada, dengan siapapun Anda bertemu, dalam situasi apapun Anda berada.
Anda, sebagai perorangan Indonesia berpotensi untuk menampilkan persepsi ’paling Indonesia’ dari sisi positif dan sisi terhormat.

Berbanggalah bila orang asing memuji, ”You are so Indonesian” ketika melakukan tindakan sosial budaya positif, bukan sebaliknya.
[ source ]
Yang ‘paling Indonesia’ ada banyak. Yang baik-baik ini patut dibanggakan dan disuritauladani. Hal-hal tidak baik yang ‘paling Indonesia’ juga ada banyak, yang sulit kita akui sebagai keburukan.
Yang jelek-jelek begini biasanya tampak mantap di mata orang asing. Meski persepsi ini cuma diserap dari seorang individu tunggal Indonesia, nilai persepsi itu sudah menjadi cap negatif bagi orang Indonesia.
Saya berhasil mengumpulkan sejumlah quotations dari pengalaman bergaul dengan orang asing dan dari catatan teman-teman yang menilai tindak tanduk mereka.
”Orang Indonesia gak bisa antri,”
(Kata petugas Customs pada saya di bandara internasional San Francisco, 1992, ketika saya tak sengaja menyalip antrian pemeriksaan pabean)
”Orang Indonesia kalau kerja tidak berkeringat, kalau makan berkeringat,”
(Simpul seorang guru Jepang di Sekolah Jepang Surabaya, tempat saya pernah mengajar bahasa Inggris, 1998)
”Kalau orang Indonesia bilang ’no problem’, itu berarti ’big problem,”
(Ucap dua wartawan koran asal Jerman yang menyewa saya sebagai penterjemah ketika mengikuti perjalanan wisata sebuah keluarga dengan dua orangutan. Keluarga ini diberi hak asuh orangutan dari Kebun Binatang Surabaya, 1996)
”Orang Indonesia suka mengurusi urusan orang lain,”
(Pendapat murid saya, lelaki asal Amerika yang diusir Pak RT ketika mengapeli pacarnya yang tinggal di kampung di Surabaya. Ia diusir karena belum pulang juga dari rumah pacar sampai pukul 22.00)
”Orang lain kalau bersalah minta maaf. Orang Indonesia kalau bersalah malah tertawa,”
(Kata teman saya asal Simon Lee, asal Singapura. Saya jadi ingat Amrozi, teroris otak bom Bali yang terus-tersenyum-senyum di depan kamera televisi meski baru menghabisi lebih dari dua ratus nyawa wisatawan di café Sari dan café Padi di Kuta)
“Indonesia itu negara surga. Saya salah jalan, ditilang polisi, saya sodori Rp 20.000. Beres! Kalau di negara saya, SIM saya disita, saya harus ke pengadilan, makan biaya, makan waktu lama, bikin capek”
(Ucap Peter Mudd, teman saya asal Inggris, punya Kursus Bahasa Inggris di Surabaya)
”Indonesia dipenuhi pecinta keindahan sekaligus perusak keindahan.
Coba itu lihat, pohon-pohon ditempeli iklan pakai paku, ruang-ruang publik yang baru dicat atau dibangun ditempeli iklan jasa sedot WC, spanduk malang melintang di tengah jalan. Rambu-rambu lalu lintas juga ditempeli iklan macam-macam jasa, termasuk iklan basmi kecoak”
(Pengamatan Catherine Anderson, asal Perth, Australia, siswa Bahasa Indonesia saya)
“Saya heran, kalau lagu Indonesia Raya tengah berkumandang, orang di sini tidak berdiri tegak dengan posisi khidmat. Di negara saya, kalau lagu kebangsaan mengudara di loud-speaker umum, kami wajib menghentikan semua kegiatan dan berdiri khidmat,”
(Kata Singkong Pitbongsarakul, teman asal Thailand yang suka mengajari saya masakan Thai)
“Orang Indonesia pintar menyulap angka. Saya suruh anak buah saya beli pompa air listrik. Ia menyerahkan bon resmi bernilai Rp 2,5 juta. Belakangan saya tahu harganya cuma Rp 2,1 juta”
(Kata Andrei Dimitriakis, asal Yunani, seperti diceritakan pada teman saya. Andrei adalah manajer eksekutif bidang pemasaran perusahaan sabun internasional di Surabaya)
“Jam karet! Janji jam 10.00, datang jam 11.00.
Kalau janji temu meleset, HP-nya sulit dihubungi”
(Pendapat Helena Sanchez, kenalan baru saya, asal Argentina, bolak-balik ke Indonesia sebagai utusan LSM internasional untuk urusan disaster recovery)
Quotations di atas memang mencerminkan nilai dan situasi sosial budaya yang boleh dibilang ’paling Indonesia’ dari sisi negatif. Perlukah kita mengubahnya menjadi lebih baik? Tentu saja!
Itu bisa dimulai dari individu kita sebagai orang Indonesia. Saya dan Anda harus menjadi duta sosial-budaya Indonesia di manapun Anda berada, dengan siapapun Anda bertemu, dalam situasi apapun Anda berada.
Anda, sebagai perorangan Indonesia berpotensi untuk menampilkan persepsi ’paling Indonesia’ dari sisi positif dan sisi terhormat.

Berbanggalah bila orang asing memuji, ”You are so Indonesian” ketika melakukan tindakan sosial budaya positif, bukan sebaliknya.
[ source ]
Subscribe to:
Posts (Atom)