Showing posts with label kata. Show all posts
Showing posts with label kata. Show all posts
Friday, December 6, 2013
Syiah Sesat Ini Kata Ustadz Kampung Bagian I
Miris dan sedih melihat dunia Islam dewasa ini. Fitnah dan pengkafiran terhadap suatu kelompok yang berbeda seolah sudah menjadi hal lumrah dan layak untuk sebarluaskan, terlebih kepada madzhab Syiah. Lihat saja, misalnya: pengusiran kelompok Tajul Muluk di Sampang, Madura; fitnah terhadap rezim Basyar Al Assad di Syria (Suriah); fitnah yang tak henti-hentinya terhadap Iran yang dituding sebagai antek Yahudi (padahal justru Iranlah yang paling getol menyuarakan anti zionis dan selalu berkonfrontasi dengan Israel sedangkan negera-negara Arab lainnya justru “bermesraan” dengan Israel), merupakan beberapa bukti bahwa Syiah seolah-olah musuh bersama yang harus ditumpas dan dimusnahkan dari muka bumi. Sebagai muslim, tentu saya heran dan bertanya-tanya, apakah Syiah sedemikian sesat sehingga MUI Jawa Timur pun perlu mengeluarkan fatwa tentang sesatnya Syiah? Bukankah kebanyakan muslim di Jawa Timur itu penganut NU, yang secara tradisi lebih dekat kepada Syiah, bahkan Gur Dur (alm) secara berkelakar pernah mengatakan bahwa "NU itu Syiah minus Imamah sedangkan Syiah itu NU plus Imamah", tapi MUI-nya membuat fatwa seperti itu? Lalu kenapa orang-orang sekaliber Quraish Shihab, Amien Rais, Din Syamsuddin (ketua Muhammadyah), Said Aqil Syiradj (ketua NU), dan beberapa tokoh Islam lainnya tidak mempermasalahkan keberadaan Syiah bahkan cenderung membelanya?
Orang awam seperti saya tentu akan semakin puyeng dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Beruntung saya memiliki ustadz yang selalu bisa memberikan tausyiah-tausyiah menyejukkan. Sekalipun berada di kampung, ustadz saya ini cukup terbuka dan memiliki wawasan yang luas. Maka pada kesempatan mudik kemarin saya manfaatkan untuk silaturahmi dan bertanya kepada beliau seputar ajaran Syiah. Berikut adalah dialog saya dengan ustadz tersebut:
Saya : Ustadz pasti tahu peristiwa Sampang dan fatwa MUI Jatim yang menyatakan bahwa Syiah itu sesat. Apa tanggapan ustadz?
Ustadz : Hmm... (tersenyum) Kalau Syiah itu sesat berarti saya dan kamu juga sesat.
Saya : Lho, kok bisa gitu? Emang kenapa?
Ustadz : Kamu Syafi’i kan?
Saya : Ya... saya kan mengikuti ustadz. Kalau ustadz bermadzhab Syafi’i berarti saya juga bermadzhab Syafi’i. Emang apa hubungannya dengan Imam Syafi’i?
Ustadz : Begini... Iman Syafi’i itu kan muridnya Imam Malik, sedangkan Imam Malik muridnya Imam Ja’far. Nah, Imam Ja’far ini merupakan cicit Rasulullah yang dijadikan imamnya madzhab Syiah, makanya penganut Syiah sering juga disebut penganut madzhab Ja’fari. Jadi kalau ajaran Imam Ja’far itu sesat pasti ajaran yang dibawa murid-muridnya juga, termasuk Imam Syafi’i, akan sesat.
Saya : Jadi Syiah itu tidak sesat dong?
Ustadz : Simpulkan saja sendiri, kamu kan sekolah... Bahkan mungkin kamu tahu dari buku-buku sejarah bahwa Islam yang pertama kali datang ke Indonesia itu dibawa oleh orang-orang Syiah.
Saya : Ah, ustadz... di buku-buku sejarah gak ada tuh yang menyebutkan bahwa Islam yang datang ke Indonesia itu Islam Syiah, yang ada hanya menyebutkan bahwa Islam itu dibawa oleh para pedagang dari Persia dan Gujarat.
Ustadz : Kamu ini gimana, sekolah tinggi-tinggi tapi tidak bisa menganalisa dan menarik kesimpulan.
Saya : Maksud ustadz?
Ustadz : Persia itu kan Iran sedangkan Gujarat itu salah satu wilayah di India yang berdekatan dengan Pakistan. Mayoritas penduduk Iran kan beraliran Syiah, jadi sangat mungkin kalau Islam yang pertama kali masuk dan menyebar di Indonesia itu Islam Syiah.
Saya : Itu kan baru asumsi dan kesimpulan ustad, boleh jadi yang datang justru pedagang Persia yang beraliran Sunni atau malah pedagang dari Arab.
Ustadz : Benar... Tapi dugaan Islam yang datang pertama kali itu Islam Syiah sangat kuat karena didukung oleh peninggalan-peninggalan tradisi Syiah yang masih melekat dalam kehidupan kita.
Saya : Contohnya, ustadz?
Ustadz : Contohnya banyak, seperti tradisi tahlilan, shalawatan, tawasulan, peringatan hari asy-syuro, tabot di Bengkulu, grebegan di Yogya, dll. Itu semua tradisi Syiah sedangkan di Arab sendiri, yang mayoritas penduduknya beraliran Sunni, tidak mengenal adanya tahlilan, shalawatan, tawasulan, atau peringatan hari asy-syuro.
Saya : Ooo.... Tapi ustadz, kenapa orang Syiah membeda-bedakan shahabat rasul, bahkan beberapa shahabat rasul malah dibencinya? Bukankah menghina dan membenci para shahabat itu perbuatan sesat?
Ustadz : Kata siapa aliran Syiah membenci para shahabat?
Saya : Banyak ustadz... Bahkan di situs-situs internet juga banyak yang mengungkapkan hal itu.
Ustadz : Hehehe..... Kamu sudah termakan hasutan-hasutan murahan yang sumbernya tidak jelas. Seharusnya kamu ber-tabayyun, memeriksa asal muasal berita itu kemudian melakukan analisa dan penyimpulan. Coba kamu pikir, siapa yang diuntungkan dengan perpecahan umat Islam akibat berita-berita semacam itu?
Saya : Pastinya Amerika, Israel dan sekutunya.
Ustadz : Tepat sekali. Jadi sebagai muslim yang berakal seharusnya kita jangan mudah ditipu, dihasut, dan diadudomba seperti itu.
Saya : Saya pingin tahu saja bagaimana tanggapan ustadz mengenai berita-berita itu, apa benar orang-orang Syiah membenci sebagian para shahabat rasul yang mulia?
Ustadz : Begini... Kamu tahu kan kalau para hakim dan anggota dewan di negara kita selalu disebut yang mulia? Nah, bagaimana dengan hakim-hakim yang bisa disuap, memperjualbelikan hukum, dan anggota dewan yang korup apa masih layak disebut sebagai yang mulia atau yang terhormat?
Saya : Tentu tidak, ustadz... Bahkan mereka sangat layak untuk disebut yang terkutuk.
Ustadz : Persis! Dalam pandangan Syiah, tidak semua shahabat nabi itu baik bahkan ada beberapa shahabat, selepas nabi wafat, berubah menjadi fasik, munafik, bahkan ada yang kembali kafir. Jadi, menurut mereka, para shahabat yang seperti ini sudah tidak layak lagi untuk dihormati dan dimuliakan.
Saya : Siapa saja mereka itu ustadz?
Ustadz : Kamu kan sekolah di kota pastinya banyak buku sejarah Islam yang bisa kamu cari, atau bisa juga kamu cari di internet tentang para shahabat yang berubah menjadi fasik dan munafik selepas nabi wafat.
Saya : Tapi ustadz, sekalipun mereka berubah tapi kan mereka sudah banyak berjasa bagi Islam di masa-masa awal maka tidak sepantasnya mereka itu dihina.
Ustadz : Kamu tahu Soekarno, Soeharto, Gusdur, atau Habiebie? Apa semua bangsa kita mengagungkan dan menghormati beliau karena sudah berjasa bagi bangsa dan negara? Tidak kan, ada saja sebagian masyarakat kita yang menghina bahkan mengutuknya akibat kebijakan atau perbuatannya yang tidak disukai. Begitupun orang-orang Syiah dalam menilai para shahabat fasik itu, ada yang menghinanya tapi banyak juga yang tidak. Umumnya yang menghina itu dari kalangan yang kurang terdidik sehingga tidak bisa bersikap bijak. Coba saja kamu baca buku-buku Murtadha Muthahhari, Ali Syariati, Baqir Shadr, dan kaum intelektual Islam Syiah lainnya, tidak ada satupun dari mereka menghina para shahabat itu.
Saya : Tapi ustadz, dari situs-situs yang saya baca, mereka merujuk kepada buku-buku Syiah yang memuat penghinaan terhadap para shahabat. Yang menulis buku-buku itu pastinya dari kalangan terdidik. Bagaimana tanggapan ustadz?
Ustadz : Kamu ini... keledai kok dipiara, hehehe.... Apa kamu kira Eggy Sudjana, Fajlur Rahman, Alm. Munir, dan beberapa tokoh lain itu orang bodoh? Mereka itu terdidik bahkan banyak yang bergelar Doktor (S3) tapi tetap saja mereka mendiskreditkan Soeharto dan kroninya meskipun pernah berjasa bagi kemajuan Indonesia. Dan apa kamu kira tidak ada buku-buku yang menjelekkan Soekarno, Soeharto, Gusdur, atau Habiebie? Kalau kamu cari pastinya banyak buku-buku seperti itu, dan penulisnya tentu bukan orang bodoh dan tidak terdidik. Masalah menjelekkan ini tidak ada kaitannya dengan ajaran atau faham seseorang, juga tidak ada hubungannya dengan terdidik atau tidak terdidik. Semua itu murni masalah persepsi dan interpretasi orang perorang. Jadi jangan digeneralisir dan dianggap bahwa semua orang Syiah sama, apalagi dikait-kaitkan dengan ajaran Syiah. Ajaran Syiah dengan orang Syiah itu beda, begitupun dengan Sunni dan orang Sunni. Apakah jika ada sebagian orang Sunni yang korupsi lantas ajaran Sunni menjadi salah dan sesat? Kan tidak.
Saya : Benar juga, ustadz...
Ustadz : Makanya berfikir dan tabayyun agar tidak mudah dipecah-belah dan diadu-domba oleh orang-orang yang membenci Islam (sambil mengutip surat Al-Hujurât : 6).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS, 49:6)
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan kepada beliau namun sayang waktu sudah menjelang maghrib sehingga memaksa percakapan kami diakhiri. Tapi kami sudah sepakat untuk meneruskannya esok hari karena masih banyak persoalan seputar Syiah yang ingin saya tanyakan kepada beliau, seperti tentang penyebab kebencian orang Syiah kepada khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman; tentang taqiyah, Abdullah bin Saba, serta isue-isue lainnya. Bersambung...
Bahasan Dialog Seputar Syiah:
- Syiah = NU + Imamah, Tradisi Syiah di Indonesia
- Taqiyah, Abdullah bin Saba, Saqifah, Khilafah, Umar, Abu Bakar
- Utsman, Muawiyah, Aisyah, Thulaqa, Fitnatulkubro, Ahlul Bait
- Nikah Mutah, Abu Hurairah, Hadits-hadits Janggal, Shalat Jama
- 12 Imam, Talfiq, Al-Quran Syiah, Kitab Al-Kafi, Strategi Zionis
Monday, October 28, 2013
Lucu Apa Kata Bule Inilah Yang Paling Indonesia
Lucu: Apa Kata Bule? Inilah Yang Paling Indonesia - Berbicara tentang judul blog ini memang sangat unik sekali, bahkan ketika orang bula mengatakan, Inilah yang paling Indonesia
Yang ‘paling Indonesia’ ada banyak. Yang baik-baik ini patut dibanggakan dan disuritauladani. Hal-hal tidak baik yang ‘paling Indonesia’ juga ada banyak, yang sulit kita akui sebagai keburukan.
Yang jelek-jelek begini biasanya tampak mantap di mata orang asing. Meski persepsi ini cuma diserap dari seorang individu tunggal Indonesia, nilai persepsi itu sudah menjadi cap negatif bagi orang Indonesia.
Saya berhasil mengumpulkan sejumlah quotations dari pengalaman bergaul dengan orang asing dan dari catatan teman-teman yang menilai tindak tanduk mereka.
”Orang Indonesia gak bisa antri,”
(Kata petugas Customs pada saya di bandara internasional San Francisco, 1992, ketika saya tak sengaja menyalip antrian pemeriksaan pabean)
”Orang Indonesia kalau kerja tidak berkeringat, kalau makan berkeringat,”
(Simpul seorang guru Jepang di Sekolah Jepang Surabaya, tempat saya pernah mengajar bahasa Inggris, 1998)
”Kalau orang Indonesia bilang ’no problem’, itu berarti ’big problem,”
(Ucap dua wartawan koran asal Jerman yang menyewa saya sebagai penterjemah ketika mengikuti perjalanan wisata sebuah keluarga dengan dua orangutan. Keluarga ini diberi hak asuh orangutan dari Kebun Binatang Surabaya, 1996)
”Orang Indonesia suka mengurusi urusan orang lain,”
(Pendapat murid saya, lelaki asal Amerika yang diusir Pak RT ketika mengapeli pacarnya yang tinggal di kampung di Surabaya. Ia diusir karena belum pulang juga dari rumah pacar sampai pukul 22.00)
”Orang lain kalau bersalah minta maaf. Orang Indonesia kalau bersalah malah tertawa,”
(Kata teman saya asal Simon Lee, asal Singapura. Saya jadi ingat Amrozi, teroris otak bom Bali yang terus-tersenyum-senyum di depan kamera televisi meski baru menghabisi lebih dari dua ratus nyawa wisatawan di café Sari dan café Padi di Kuta)
“Indonesia itu negara surga. Saya salah jalan, ditilang polisi, saya sodori Rp 20.000. Beres! Kalau di negara saya, SIM saya disita, saya harus ke pengadilan, makan biaya, makan waktu lama, bikin capek”
(Ucap Peter Mudd, teman saya asal Inggris, punya Kursus Bahasa Inggris di Surabaya)
”Indonesia dipenuhi pecinta keindahan sekaligus perusak keindahan.
Coba itu lihat, pohon-pohon ditempeli iklan pakai paku, ruang-ruang publik yang baru dicat atau dibangun ditempeli iklan jasa sedot WC, spanduk malang melintang di tengah jalan. Rambu-rambu lalu lintas juga ditempeli iklan macam-macam jasa, termasuk iklan basmi kecoak”
(Pengamatan Catherine Anderson, asal Perth, Australia, siswa Bahasa Indonesia saya)
“Saya heran, kalau lagu Indonesia Raya tengah berkumandang, orang di sini tidak berdiri tegak dengan posisi khidmat. Di negara saya, kalau lagu kebangsaan mengudara di loud-speaker umum, kami wajib menghentikan semua kegiatan dan berdiri khidmat,”
(Kata Singkong Pitbongsarakul, teman asal Thailand yang suka mengajari saya masakan Thai)
“Orang Indonesia pintar menyulap angka. Saya suruh anak buah saya beli pompa air listrik. Ia menyerahkan bon resmi bernilai Rp 2,5 juta. Belakangan saya tahu harganya cuma Rp 2,1 juta”
(Kata Andrei Dimitriakis, asal Yunani, seperti diceritakan pada teman saya. Andrei adalah manajer eksekutif bidang pemasaran perusahaan sabun internasional di Surabaya)
“Jam karet! Janji jam 10.00, datang jam 11.00.
Kalau janji temu meleset, HP-nya sulit dihubungi”
(Pendapat Helena Sanchez, kenalan baru saya, asal Argentina, bolak-balik ke Indonesia sebagai utusan LSM internasional untuk urusan disaster recovery)
Quotations di atas memang mencerminkan nilai dan situasi sosial budaya yang boleh dibilang ’paling Indonesia’ dari sisi negatif. Perlukah kita mengubahnya menjadi lebih baik? Tentu saja!
Itu bisa dimulai dari individu kita sebagai orang Indonesia. Saya dan Anda harus menjadi duta sosial-budaya Indonesia di manapun Anda berada, dengan siapapun Anda bertemu, dalam situasi apapun Anda berada.
Anda, sebagai perorangan Indonesia berpotensi untuk menampilkan persepsi ’paling Indonesia’ dari sisi positif dan sisi terhormat.

Berbanggalah bila orang asing memuji, ”You are so Indonesian” ketika melakukan tindakan sosial budaya positif, bukan sebaliknya.
[ source ]
Yang ‘paling Indonesia’ ada banyak. Yang baik-baik ini patut dibanggakan dan disuritauladani. Hal-hal tidak baik yang ‘paling Indonesia’ juga ada banyak, yang sulit kita akui sebagai keburukan.
Yang jelek-jelek begini biasanya tampak mantap di mata orang asing. Meski persepsi ini cuma diserap dari seorang individu tunggal Indonesia, nilai persepsi itu sudah menjadi cap negatif bagi orang Indonesia.
Saya berhasil mengumpulkan sejumlah quotations dari pengalaman bergaul dengan orang asing dan dari catatan teman-teman yang menilai tindak tanduk mereka.
”Orang Indonesia gak bisa antri,”
(Kata petugas Customs pada saya di bandara internasional San Francisco, 1992, ketika saya tak sengaja menyalip antrian pemeriksaan pabean)
”Orang Indonesia kalau kerja tidak berkeringat, kalau makan berkeringat,”
(Simpul seorang guru Jepang di Sekolah Jepang Surabaya, tempat saya pernah mengajar bahasa Inggris, 1998)
”Kalau orang Indonesia bilang ’no problem’, itu berarti ’big problem,”
(Ucap dua wartawan koran asal Jerman yang menyewa saya sebagai penterjemah ketika mengikuti perjalanan wisata sebuah keluarga dengan dua orangutan. Keluarga ini diberi hak asuh orangutan dari Kebun Binatang Surabaya, 1996)
”Orang Indonesia suka mengurusi urusan orang lain,”
(Pendapat murid saya, lelaki asal Amerika yang diusir Pak RT ketika mengapeli pacarnya yang tinggal di kampung di Surabaya. Ia diusir karena belum pulang juga dari rumah pacar sampai pukul 22.00)
”Orang lain kalau bersalah minta maaf. Orang Indonesia kalau bersalah malah tertawa,”
(Kata teman saya asal Simon Lee, asal Singapura. Saya jadi ingat Amrozi, teroris otak bom Bali yang terus-tersenyum-senyum di depan kamera televisi meski baru menghabisi lebih dari dua ratus nyawa wisatawan di café Sari dan café Padi di Kuta)
“Indonesia itu negara surga. Saya salah jalan, ditilang polisi, saya sodori Rp 20.000. Beres! Kalau di negara saya, SIM saya disita, saya harus ke pengadilan, makan biaya, makan waktu lama, bikin capek”
(Ucap Peter Mudd, teman saya asal Inggris, punya Kursus Bahasa Inggris di Surabaya)
”Indonesia dipenuhi pecinta keindahan sekaligus perusak keindahan.
Coba itu lihat, pohon-pohon ditempeli iklan pakai paku, ruang-ruang publik yang baru dicat atau dibangun ditempeli iklan jasa sedot WC, spanduk malang melintang di tengah jalan. Rambu-rambu lalu lintas juga ditempeli iklan macam-macam jasa, termasuk iklan basmi kecoak”
(Pengamatan Catherine Anderson, asal Perth, Australia, siswa Bahasa Indonesia saya)
“Saya heran, kalau lagu Indonesia Raya tengah berkumandang, orang di sini tidak berdiri tegak dengan posisi khidmat. Di negara saya, kalau lagu kebangsaan mengudara di loud-speaker umum, kami wajib menghentikan semua kegiatan dan berdiri khidmat,”
(Kata Singkong Pitbongsarakul, teman asal Thailand yang suka mengajari saya masakan Thai)
“Orang Indonesia pintar menyulap angka. Saya suruh anak buah saya beli pompa air listrik. Ia menyerahkan bon resmi bernilai Rp 2,5 juta. Belakangan saya tahu harganya cuma Rp 2,1 juta”
(Kata Andrei Dimitriakis, asal Yunani, seperti diceritakan pada teman saya. Andrei adalah manajer eksekutif bidang pemasaran perusahaan sabun internasional di Surabaya)
“Jam karet! Janji jam 10.00, datang jam 11.00.
Kalau janji temu meleset, HP-nya sulit dihubungi”
(Pendapat Helena Sanchez, kenalan baru saya, asal Argentina, bolak-balik ke Indonesia sebagai utusan LSM internasional untuk urusan disaster recovery)
Quotations di atas memang mencerminkan nilai dan situasi sosial budaya yang boleh dibilang ’paling Indonesia’ dari sisi negatif. Perlukah kita mengubahnya menjadi lebih baik? Tentu saja!
Itu bisa dimulai dari individu kita sebagai orang Indonesia. Saya dan Anda harus menjadi duta sosial-budaya Indonesia di manapun Anda berada, dengan siapapun Anda bertemu, dalam situasi apapun Anda berada.
Anda, sebagai perorangan Indonesia berpotensi untuk menampilkan persepsi ’paling Indonesia’ dari sisi positif dan sisi terhormat.

Berbanggalah bila orang asing memuji, ”You are so Indonesian” ketika melakukan tindakan sosial budaya positif, bukan sebaliknya.
[ source ]
Subscribe to:
Posts (Atom)